Senin, 28 Oktober 2013
Rabu, 19 Juni 2013
Mewaspadai 2 Fitnah Pasca Wafatnya Ustadz Jefri Al Buchori
Kita sudah sering mendengar dan membaca doa ini. Doa ini menjadi salah
satu alternatif doa dalam shalat jenazah. Hanya saja, terkadang kita
kurang mencermati makna dalam doa ini, sebagai permohonan kita
berlindung kepada Allah, dari fitnah setelah wafatnya seseorang,
termasuk ulama.
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ
Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya dan janganlah Engkau turunkan fitnah kepada kami sepeninggalnya. (HR. Imam Malik dalam Al Muwatha', Ibnu Majah meriwayatkan dengan dhamir "hum")
Ustadz Jefri Al Buchori adalah seorang dai muda yang banyak disukai oleh berbagai kalangan; dari anak muda hingga para selebriti. Tidak berlebihan jika Hidayat Nur Wahid menyebut Ustadz Jefri sebagai pejuang dakwah. Wafatnya beliau pada hari Jum'at membuat Ustadz Arifin Ilham membacakan hadits ini untuk beliau:
ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر
"Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Allah melindunginya dari siksa kubur" (HR. Al-Tirmidzi)
Ribuan orang menshalati jenazah beliau dan turut mengiringinya ke pemakaman. Belum lagi entah berapa banyak muslim yang mendoakan dan melakukan shalat ghaib untuk beliau di berbagai daerah.
Sayangnya, ada dua fitnah yang berkembang di masyarakat sepeninggal Ustadz Jefri yang perlu untuk segera diluruskan.
Pertama, mereka yang menghina atau meremehkan beliau. Orang yang terkena fitnah jenis ini insya Allah tidak banyak jumlahnya. Namun ada. Di media sosial, akun yang terindikasi fitnah ini menampakkan dirinya. Di saat jutaan umat Islam mendoakan Ustadz Jefri, ada yang malah menghina beliau dengan mempersoalkan kapasitas Uje sebagai ustadz.
Tidakkah orang seperti ini mengerti bahwa Allah melarang keras ghibah.
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Janganlah sebagian kalian menggunjing dengan sebagaian yang lain.
Sukakah salah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik.” (QS Al-Hujuraat 49:12)
Bahkan Rasulullah menyebutkan secara khusus terkait ghibah terhadap orang yang sudah meninggal. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih bahwa ada seorang yang menyebut-nyebut aib orang yang sudah mati di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menyebut-nyebut orang yang sudah meninggal di antara kalian kecuali dengan kebaikan.”
Kedua, orang yang terkena fitnah ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) hingga jatuh dalam pengkultusan. Jumlahnya lebih banyak daripada golongan pertama. Fenomena menyebarkan foto hoax awan yang menyerupai orang berdoa seraya memberikan keterangan bahwa awan itu tepat berada di atas pemakaman Ustadz Jefri bisa jadi dilandasi motif mengkultuskan. Yang pasti, sebagian masyarakat yang memang suka mistis kemudian mempercayai awan itu sebagai tanda "karamah" rentan terjebak pengkultusan. Padahal, jumlah jamaah yang mendoakan dan menshalatkan serta amal dakwah Ustadz Jefri sebenarnya sudah cukup menunjukkan kemuliaan beliau.
Fenomena ghuluw yang lebih jelas ditunjukkan oleh sebuah media nasional, bagaimana seorang wanita dari luar pulau menyempatkan datang khusus ke Jakarta untuk berziarah ke makam Ustadz Jefri, rela mengantri diantara ratusan peziarah lain, Ahad (28/4) kemarin. Ia kemudian mencium batu nisan Ustadz Jefri. "Saya terharu ketika mencium batu nisan Uje, saya benar-benar merinding dan benar-benar merasa tergetar," kata wanita itu.
Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap makam orang shalih dikhawatirkan lambat laun akan mengubah kuburan tersebut sebagai berhala yang disembah. Itulah yang dikhawatirkan Rasulullah sehingga beliau berdoa agar makamnya tidak disembah.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala. Allah
sangat murka kepada orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka
sebagai tempat ibadah" (HR. Imam Malik dalam Al Muwatha')
Doa Rasulullah itu kemudian dikabulkan Allah. Tidak seorangpun yang bisa mendekat kuburan Nabi untuk menyembahnya.
Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih kemudian menjadikannya berhala sebenarnya telah terjadi berkali-kali. Laata adalah salah satu contohnya. Ia merupakan salah satu induk berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik di zaman jahiliyah. Allah berfirman tentang penyembahan Laata, diantaranya pada Surat An-Najm ayat 19-20. Ketika menafsirkan ayat tersebut, Mujahid mengatakan "Laata adalah orang yang dahulunya mengadukkan tepung (dengan air atau minyak) untuk para jama'ah haji. Setelah ia meninggal, mereka senantiasa mendatangi kuburannya." Jadi Laata adalah orang shalih yang melayani jamaah haji dengan membuatkan dan memberikan makanan untuk mereka. Ketika ia meninggal kuburannya didatangi, diagungkan, lalu lama kelamaan mulailah ia dikultuskan dan disembah. Setelah berganti zaman, hingga menjelang Rasulullah diutus, Laata sudah dibuatkan berhala dan disembah oleh orang-orang jahiliyah.
Semoga kita bisa bersikap proporsional atas wafatnya ulama, termasuk Ustadz Jefri. Yakni menghormati dan mendoakan beliau serta meneruskan perjuangan dakwahnya, tetapi tidak sampai terjebak pada sikap ghuluw terhadapnya. Wallahu a'lam bish shawab. [Abu Nida]
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ
Ustadz Jefri Al Buchori adalah seorang dai muda yang banyak disukai oleh berbagai kalangan; dari anak muda hingga para selebriti. Tidak berlebihan jika Hidayat Nur Wahid menyebut Ustadz Jefri sebagai pejuang dakwah. Wafatnya beliau pada hari Jum'at membuat Ustadz Arifin Ilham membacakan hadits ini untuk beliau:
ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر
Ribuan orang menshalati jenazah beliau dan turut mengiringinya ke pemakaman. Belum lagi entah berapa banyak muslim yang mendoakan dan melakukan shalat ghaib untuk beliau di berbagai daerah.
Sayangnya, ada dua fitnah yang berkembang di masyarakat sepeninggal Ustadz Jefri yang perlu untuk segera diluruskan.
Pertama, mereka yang menghina atau meremehkan beliau. Orang yang terkena fitnah jenis ini insya Allah tidak banyak jumlahnya. Namun ada. Di media sosial, akun yang terindikasi fitnah ini menampakkan dirinya. Di saat jutaan umat Islam mendoakan Ustadz Jefri, ada yang malah menghina beliau dengan mempersoalkan kapasitas Uje sebagai ustadz.
Tidakkah orang seperti ini mengerti bahwa Allah melarang keras ghibah.
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Bahkan Rasulullah menyebutkan secara khusus terkait ghibah terhadap orang yang sudah meninggal. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih bahwa ada seorang yang menyebut-nyebut aib orang yang sudah mati di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menyebut-nyebut orang yang sudah meninggal di antara kalian kecuali dengan kebaikan.”
Kedua, orang yang terkena fitnah ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) hingga jatuh dalam pengkultusan. Jumlahnya lebih banyak daripada golongan pertama. Fenomena menyebarkan foto hoax awan yang menyerupai orang berdoa seraya memberikan keterangan bahwa awan itu tepat berada di atas pemakaman Ustadz Jefri bisa jadi dilandasi motif mengkultuskan. Yang pasti, sebagian masyarakat yang memang suka mistis kemudian mempercayai awan itu sebagai tanda "karamah" rentan terjebak pengkultusan. Padahal, jumlah jamaah yang mendoakan dan menshalatkan serta amal dakwah Ustadz Jefri sebenarnya sudah cukup menunjukkan kemuliaan beliau.
Fenomena ghuluw yang lebih jelas ditunjukkan oleh sebuah media nasional, bagaimana seorang wanita dari luar pulau menyempatkan datang khusus ke Jakarta untuk berziarah ke makam Ustadz Jefri, rela mengantri diantara ratusan peziarah lain, Ahad (28/4) kemarin. Ia kemudian mencium batu nisan Ustadz Jefri. "Saya terharu ketika mencium batu nisan Uje, saya benar-benar merinding dan benar-benar merasa tergetar," kata wanita itu.
Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap makam orang shalih dikhawatirkan lambat laun akan mengubah kuburan tersebut sebagai berhala yang disembah. Itulah yang dikhawatirkan Rasulullah sehingga beliau berdoa agar makamnya tidak disembah.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Doa Rasulullah itu kemudian dikabulkan Allah. Tidak seorangpun yang bisa mendekat kuburan Nabi untuk menyembahnya.
Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih kemudian menjadikannya berhala sebenarnya telah terjadi berkali-kali. Laata adalah salah satu contohnya. Ia merupakan salah satu induk berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik di zaman jahiliyah. Allah berfirman tentang penyembahan Laata, diantaranya pada Surat An-Najm ayat 19-20. Ketika menafsirkan ayat tersebut, Mujahid mengatakan "Laata adalah orang yang dahulunya mengadukkan tepung (dengan air atau minyak) untuk para jama'ah haji. Setelah ia meninggal, mereka senantiasa mendatangi kuburannya." Jadi Laata adalah orang shalih yang melayani jamaah haji dengan membuatkan dan memberikan makanan untuk mereka. Ketika ia meninggal kuburannya didatangi, diagungkan, lalu lama kelamaan mulailah ia dikultuskan dan disembah. Setelah berganti zaman, hingga menjelang Rasulullah diutus, Laata sudah dibuatkan berhala dan disembah oleh orang-orang jahiliyah.
Semoga kita bisa bersikap proporsional atas wafatnya ulama, termasuk Ustadz Jefri. Yakni menghormati dan mendoakan beliau serta meneruskan perjuangan dakwahnya, tetapi tidak sampai terjebak pada sikap ghuluw terhadapnya. Wallahu a'lam bish shawab. [Abu Nida]
3 Perjuangan Besar Dakwah Ustadz Jefri Al Buchori
Hidayat Nur Wahid, Jum’at (26/4) siang, mengatakan bahwa Ustadz Jefri Al Buchori adalah pejuang dakwah. Sebagai pejuang dakwah, Ustadz Jefri tercatat telah melakukan 3 perjuangan besar yang tidak semua dai bisa melakukannya.
Berikut ini 3 perjuangan besar dakwah Ustadz Jefri Al Buchori:
1. Mengemas dakwah menjadi disukai banyak komunitas
Islam itu indah. Namun, seringkali dakwah Islam “ditakuti” karena kemasannya yang “keras.” Ustadz Jefri Al Buchori adalah salah satu dai yang cukup berhasil mengemas dakwah menjadi sesuatu yang disukai banyak komunitas. Mulai dari komunitas motor gede (moge) hingga kalangan anak muda.
Sebutan sebagai ustadz gaul adalah bukti betapa ustadz yang akrab dipanggil Uje ini diterima di kalangan anak muda. Karenanya ketika Uje wafat, kelompok pelajar di berbagai wilayah di penjuru Indonesia mendoakannya. Misalnya di Bogor. Ratusan siswa SD dan SMP menggelar doa bersama dan shalat ghaib di masjid sekolah, Jum’at (26/4) siang. Acara serupa digelar di Surabaya. Puluhan pelajar SMP Islam Takmiriyah juga menggelar shalat ghaib di masjid sekolah yang berada di sebelah gedung DPRD Provinsi Jawa Timur itu.
Tak hanya kalangan anak muda, tidak sedikit pula orangtua menjadi penikmat dakwah Uje. Bahkan, ada diantara mereka yang menganggap Uje seperti anak mereka sendiri. Misalnya ibu dari Krisdayanti, Rachma Widadiningsih.
Sedangkan di dunia online, Uje juga digemari banyak kalangan. Meski tidak begitu aktif di twitter, akunnya difollow oleh 100 ribu lebih follower. Sejak tadi pagi, tak terhitung banyaknya twit duka cita dan doa yang ditulis para tweeps untuk Uje.
2. Mewarnai dunia artis dan selebritis dengan dakwah
Dunia selebritis selama ini dipandang cenderung berkonotasi negatif, penuh glamour dan identik dengan gemerlap. Ironisnya, pandangan itu menjadikan para dai seakan terkesan menjaga jarak sehingga dunia selebritis semakin jauh dari sentuhan dakwah.
Uje adalah salah satu diantara sedikit dai yang cukup berhasil mewarnai dunia selebritis dengan dakwahnya. Sejumlah artis tercatat telah bertaubat setelah tersentuh dakwah ustadz Jefri. Misalnya Eddies Adelia yang kini telah berjilbab.
![]() |
| Istri Ustadz Jefri, Ustazah Yoyoh Yusroh, KNRP |
3. Membela dunia Islam
Bukan hanya dikenal sebagai ustadz gaul dan mewarnai dunia selebritis dengan dakwah, Uje juga dikenal komit melakukan pembelaan terhadap umat Islam yang terzalimi, utamanya Palestina. Entah sudah berapa kali Uje terlibat dalam penggalangan dana Palestina, disamping terus mendukung perjuangan umat Islam di negeri Syam itu agar merdeka dari penjajahan Zionis Yahudi.
ORANG YANG PALING DEKAT DENGAN NABI صلى الله عليه وسلم DI HARI KIAMAT
Saudaraku
rohimaniyallohu wa iyyakum. Dalam rubrik percikan Iman kali ini kita
akan mempelajari bersama tentang orang yang pali dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم di hari Qiyamat.
Diriwayatkan dari Jabir رضي الله عنه bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ
مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ
وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ
وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا
الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ
“Sesungguhnya
orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat
kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik
akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun. ” Sahabat berkata: “Ya Rosululloh… kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong. ” (Hadits riwayat Al-Imam At-Tirmidzi. Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani dalam kitab Shohih Sunan At-Tirmidzi)
Saudaraku yang budiman. Di dalam hadits ini Rosululloh صلى الله عليه وسلم menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Maka apabila akhlak kita semakin mulia, niscaya kedudukan kita di hari kiamat kelak akan semakin dekat dengan beliau صلى الله عليه وسلم dibandingkan selain kita. Sedangkan orang yang terjauh posisinya dari Nabi صلى الله عليه وسلم pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin رحمه الله تعالى menerangkan bahwa ma’na tsartsarun adalah orang yang banyak bicara dan suka menyerobot pembicaraan orang lain. Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu majlis, dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah tidak boleh ada yang bicara dalam majlis itu selain dia. Dia berbicara, tanpa membiarkan orang lain leluasa berkata-kata. Perbuatan seperti ini tidak diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majlis dalam konteks ini adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majlis ilmu atau pengajian. Sebab
jika suatu saat kita mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau
mengisi kajian di depan mereka lalu kita sendirian yang lebih banyak
berbicara maka hal ini tidaklah mengapa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
al-’Utsaimin رحمه الله تعالى menerangkan bahwa makna mutasyaddiqun adalah orang yang suka berbicara dengan gaya bicara yang meremehkan orang lain, seolah-olah dia adalah orang paling fasih. Itu dilakukannya karena kesombongan dan bangga diri yang berlebihan. Seperti contohnya berbicara dengan menggunakan bahasa Arab di hadapan orang-orang awam. Sebab kebanyakan orang awam tidak paham bahasa Arab. Seandainya
kita mengajak bicara mereka dengan bahasa Arab, maka tentulah hal itu
terhitung sikap berlebihan dan memaksa-maksakan dalam pembicaraan. Adapun
jika kita sedang mengajar di hadapan para penuntut ilmu, maka
biasakanlah berbicara dengan bahasa Arab dalam rangka mendidik dan
melatih mereka agar sanggup berbicara dengan bahasa Arab. Adapun terhadap orang awam maka tidak selayaknya kita berbicara dengan mereka dengan bahasa Arab, tetapi
hendaknya kita berbicara dengan mereka dengan bahasa yang mereka
pahami, dan jangan banyak memakai istilah-istilah asing. Artinya janganlah kita menggunakan kata-kata asing yang sulit mereka mengerti, karena
hal itu termasuk berlebihan dan angkuh dalam pembicaraan. Saudaraku
yang budiman, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin رحمه الله تعالى juga menerangkan makna mutafaihiqun: Nabi صلى الله عليه وسلم telah menerangkannya yaitu orang-orang yang sombong. Orang sombong ini bersikap angkuh di hadapan orang-orang. Jika
berdiri untuk berjalan seolah-olah dia berjalan di atas helaian daun
(dengan langkah kaki yang dibuat-buat –pent) karena adanya kesombongan
di dalam dirinya. Perilaku ini tidak diragukan lagi termasuk akhlak yang sangat tercela. Wajib bagi setiap orang untuk menghindarinya. Karena yang namanya orang tetap saja manusia biasa, maka hendaklah dia mengerti ukuran dirinya sendiri. Meskipun dia telah dikaruniai sekian banyak harta, kedalaman ilmu atau kedudukan yang tinggi oleh Alloh سبحانه وتعالى , seyogyanya dia merendahkan hati (tawadhu’).
Sikap tawadhu’ orang-orang yang telah mendapat anugerah harta, ilmu, atau kedudukan tentu lebih utama nilainya daripada tawadhu’nya orang-orang yang tidak seperti mereka. Oleh sebab itu terdapat dalam sebuah hadits yang memberitakan orang-orang yang tidak akan diajak bicara oleh Alloh سبحانه وتعالى dan tidak disucikan-Nya pada hari kiamat, diantara mereka adalah:“Orang miskin yang sombong”. Sebab orang miskin tidak mempunyai faktor pendorong (modal) untuk sombong…. Sudah semestinya orang-orang yang diberi anugerah nikmat oleh Alloh سبحانه وتعالى semakin meningkatkan syukurnya kepada Alloh سبحانه وتعالى serta semakin tambah tawadhu’ kepada sesama.
Saudaraku
yang budiman rohimaniyallohu wa iyyakum. Demikianlah pertemuan kita
kali ini, tentang orang yang paling dekat dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم di hari qiyamat. Insya Alloh kita akan berjumpa kembali dalam edisi dan kesempatan berikutnya. Semoga Alloh سبحانه وتعالى memberikan taufiq kepada kita semua untuk memiliki akhlak yang mulia dan amal yang baik, dan semoga Alloh عزوجل menjauhkan kita dari akhlak-akhlak yang buruk dan amal-amal yang jelek, sesungguhnya Dia Maha dermawan lagi Maha mulia . والله ولي التوفيق . نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَرْزُقَنَاوَإِيَّاكُمْ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ
MENELADANI AKHLAK AS-SALAFUSH SHOLIH
Saudaraku
rohimaniyallohu wa iyyakum. Dalam rubrik percikan Iman kali ini kita
akan mempelajari bersama tentang Meneladani Akhlaq As-Salafush-Sholih.
Tauhid dan keimanan yang benar pasti akan membuahkan amal nyata. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
الْإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ
الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ , dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu juga termasuk cabang keimanan. ” (Hadits riwayat Al-Imam Al-Bukhori dan Muslim dari Abu Huroirairoh رضي الله عنه , dan ini lafazh Muslim).
Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada. Dan ikutilah perbuatan dosa dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya. Dan pergaulilah orang dengan akhlak yang baik. ”(Hadits riwayat Al-Imam At-Tirmidzi dari Abu Dzar رضي الله عنه ).
Ibnu Rojab al-Hanbali رحمه الله تعالى mengatakan, “Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyebutkan
perintah berakhlak secara terpisah, dikarenakan kebanyakan orang
mengira bahwa ketakwaan itu hanya berkutat dengan masalah pemenuhan
hak-hak Alloh سبحانه وتعالى dan tidak berurusan dengan pemenuhan hak hamba-hamba-Nya…” “Dan orang yang menunaikan hak-hak Alloh تعالى sekaligus hak-hak sesama hamba dengan baik adalah sesuatu yang sangat jarang ditemukan, kecuali pada diri para nabi dan orang-orang yang shidiq (benar) …” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 237)
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه , beliau رضي الله عنه berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم pernah ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga. Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Takwa kepada Alloh dan akhlaq mulia. ” Beliau صلى الله عليه وسلم juga ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk neraka, maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mulut dan kemaluan. ” (Hadits riwayat Al-Imam Tirmidzi).
Al-Imam An-Nawawi رحمه الله تعالى membuat sebuah bab khusus di dalam kitab Riyadhush Sholihin yang berjudul Bab Husnul Khuluq (Akhlaq mulia). Maksud penyusunan bab ini oleh beliau رحمه الله تعالى ialah dalam rangka memotivasi agar kita memiliki akhlak yang mulia. Di dalam bab ini beliau رحمه الله تعالى juga hendak menerangkan keutamaan-keutamaannya serta siapa sajakah di antara hamba-hamba Alloh عزوجل yang memiliki sifat-sifat mulia itu. Husnul khuluq meliputi berakhlaq mulia kepada Alloh سبحانه وتعالى dan berakhlaq mulia kepada hamba-hamba Alloh تعالى .
Berakhlaq mulia kepada Alloh سبحانه وتعالى yaitu senantiasa ridho terhadap ketetapan hukum-Nya, baik yang berupa aturan syari’at maupun ketetapan takdir, menerimanya dengan dada yang lapang tanpa keluh kesah, tidak berputus asa ataupun bersedih. Apabila Alloh تعالى mentaqdirkan sesuatu yang tidak disukai menimpa seorang muslim, maka hendaknya dia ridho terhadapnya, pasrah dan sabar dalam menghadapinya. Dia ucapkan dengan lisan dan hatinya: رضيت بالله ربًّأ(rodhiitu billaahi Robban) ‘Aku ridho Alloh sebagai Robb’. Apabila Alloh سبحانه وتعالى menetapkan keputusan hukum syar’i kepadanya maka, dia menerimanya dengan ridho dan pasrah, tunduk patuh melaksanakan syari’at Alloh عزوجل Jalla dengan dada yang lapang dan hati yang tenang, inilah makna berakhlak mulia terhadap Alloh عزوجل .
Saudaraku
yang budiman. Adapun berakhlak mulia kepada sesama hamba ialah dengan
menempuh cara sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, yaitu yang tercakup dalam tiga ungkapan berikut ini:
Yang pertama: كَفُّ اْلأذى (menahan diri dari mengganggu): yaitu dengan tidak mengganggu sesama baik melalui ucapan maupun perbuatannya. Kemudian yang kedua: بَذْلُ النَّدَى (memberikan
kebaikan yang dimiliki): yaitu rela memberikan apa yang dimilikinya
berupa harta atau ilmu atau kedudukan dan kebaikan lainnya. Dan yang ketiga:طَلَقَةُ الوَجْهِ (bermuka berseri-seri, ramah): dengan cara memasang wajah berseri apabila berjumpa dengan sesama, tidak bermuka masam atau memalingkan pipi. Inilah husnul khuluq.
Orang
yang dapat melakukan ketiga hal ini niscaya dia juga akan bisa bersabar
menghadapi gangguan yang ditimpakan manusia kepadanya, sebab bersabar menghadapi gangguan mereka termasuk juga husnul khuluq . Bahkan jika seorang muslim mengharapkan pahala dari Alloh سبحانه وتعالى atas kesabarannya tentulah itu akan membuahkan kebaikan di sisi Alloh سبحانه وتعالى .
Nah saudaraku yang budiman, bagaimanakah berakhlak mulia kepada sesama? Di dalam sebuah ayat Alloh telah menghimpun beberapa kunci pokok, untuk bisa meraih akhlak yang mulia kepada sesama. Barangsiapa mempraktekkannya, niscaya akan merasakan kenikmatan buahnya. Alloh سبحانه وتعالى berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. ” (Surat al-A’roofayat 199)
Saudaraku yang budiman. Ayat yang mulia ini telah merangkum kandungan makna-makna husnul khuluq (akhlaq yang mulia) kepada sesama serta apa saja yang sepantasnya dilakukan oleh seorang hamba dalam hal mu’amalah dan pergaulan hidup mereka. Alloh عزوجل memerintahkan kita untuk melakukan tiga hal: Pertama: Menjadi pema’af. Kemudian kedua: Menyuruh orang agar mengerjakan yang ma’ruf. Dan yang ketiga adalah:Berpaling dari orang-orang yang bodoh.
Pengertian
pema’af di sini luas. Pemaaf mencakup segala bentuk perbuatan dan
akhlak yang dapat membuat hati mereka lapang dan memberikan kemudahan
untuk orang lain. Sehingga dia tidak membebankan perkara-perkara sulit yang tidak sesuai dengan tabi’at mereka. Bahkan
dia mampu mensyukuri (berterima kasih) terhadap apa saja yang mereka
berikan baik berwujud ucapan maupun perbuatan yang santun atau bahkan
yang lebih rendah darinya. Hal itu juga disertai dengan sikap memaklumi kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri orang lain. Dia tidak menyombongkan diri di hadapan yang kecil dan yang lemah akalnya karena kelemahan-kelemahan mereka. Begitu pula, dia tidak sombong kepada orang yang miskin disebabkan kemiskinannya. Bahkan dia mampu berinteraksi (berhubungan) dengan semuanya dengan lemah lembut dan melapangkan dada-dada mereka. Ia memilih sikap yang tepat sesuai situasi dan kondisi yang ada.
Pengertian mengerjakan yang ma’ruf adalah segala ucapan dan perbuatan yang baik, budi pekerti yang sempurna, terhadap orang yang memiliki hubungan dekat maupun jauh. Saudaraku yang budiman, hendaknya kita bersikap baik kepada orang lain dengan mengajarkan ilmu yang kita miliki, menganjurkan kebaikan, menyambung tali silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, mendamaikan persengketaan yang terjadi di antara sesama, atau menyumbangkan nasihat yang bermanfaat, pendapat yang jitu, memberikan bantuan dalam kebaikan dan ketakwaan, menghalangi
terjadinya suatu keburukan atau dengan memberikan arahan untuk meraih
kebaikan diniyah (agama) maupun duniawiyah (dunia).
Adapun
yang dimaksud dengan “Berpaling dari orang-orang yang bodoh” yaitu
tidak melayani atau ikut larut dalam kebodohan mereka. Jika mereka mengusik kita dengan kata-kata atau dengan tindakan bodoh maka hendaknya kita menyingkir. Kita tidak perlu membalas dendam dengan mengganggu mereka juga. Barangsiapa yang memutuskan hubungan dengan kita, maka hendaknya kta sambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa yang menzhalimi kita, maka hendaknya kita berbuat adil kepadanya. Dengan cara inilah kita akan memperoleh limpahan pahala dari Alloh عزوجل , hati menjadi tentram dan tenang, bebas dari ulah orang-orang bodoh, bahkan dengan cara ini juga, dapat merubah orang yang semula musuh menjadi teman.
Demikianlah pertemuan kita kali ini. والله ولي التوفيق . نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَرْزُقَنَاوَإِيَّاكُمْ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ
E-COMMERCE DAN E-BUSINESS
Tulisan
kali ini saya akan membahas tentang e-commerce dan e-business.
Sepertinya kita sudah sering mendengar kedua istilah ini apalagi bagi
anda yang sering berbelanja atau berbisnis dalam dunia maya seperti
internet. Di sini saya tidak membahas secara detail mengenai kedua
istilah tersebut, tetapi saya akan mencoba memberikan perbedaan yang
sedemikian jelas dan signifikan antara e-commerce dan e-business. Banyak
orang hanya sekedar tahu mengenai e-commerce dan e-business tetapi
mereka tidak memahami arti sesungguhnya dan perbedaan yang melekat dari
kedua istilah ini. Sehingga banyak orang berasumsi bahwa e-commerce dan
e-business pada prinsipnya memiliki arti dan fungsi yang sama, namun
sesungguhnya kedua istilah ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Dalam
terjemahan bahasa Indonesianya, e-commerce adalah perdangan elektronik,
yang artinya penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa
melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau
jaringan komputer lainnya. Perdangan elektronik ini dapat melibatkan
transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen
inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis. Industri
teknologi informasi melihat kegiatan ini sebagai aplikasi dan penerapan
dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial,
seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (Supply Chain Management),
pemasaran elektronik (e-marketing), atau pemasaran online (online
marketing), pemrosesan transaksi online (Online Transaction Processing),
pertukaran data elektronik (Electronic Data Interchange /EDI), dll.
Perdagangan
elektronik atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana
cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi
mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan
pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-business juga
memerlukan teknologi basisdata (databases), surat elektronik (e-mail),
dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem
pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-commerce ini.
SEJARAH SINGKAT
E-commerce
pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali
banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu
halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik
menghasilkan penjualan seharga US$ 12,2 milyar pada 2003. Menurut
laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel
online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan
mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.
Seiring
berjalannya waktu istilah “perdagangan elektronik” telah berubah.
Awalnya, perdagangan elektronik berarti pemanfaatan transaksi komersial,
seperti penggunaan EDI untuk mengirim dokumen komersial seperti pesanan
pembelian atau invoice secara elektronik. Kemudian dia berkembang
menjadi suatu aktivitas yang mempunya istilah yang lebih tepat
“perdagangan web”, yaitu pembelian barang dan jasa melalui World Wide
Web melalui server aman (HTTPS), protokol server khusus yang menggunakan
enkripsi untuk merahasiakan data penting pelanggan. Pada awalnya ketika
web mulai terkenal di masyarakat pada 1994, banyak jurnalis
memperkirakan bahwa e-commerce akan menjadi sebuah sektor ekonomi baru.
Namun, baru sekitar empat tahun kemudian protokol aman seperti HTTPS
memasuki tahap matang dan banyak digunakan. Antara 1998 dan 2000 banyak
bisnis di AS dan Eropa mengembangkan situs web perdagangan ini.
DEFINISI, PERBEDAAN, DAN KARAKTERISTIK
Seperti
tadi saya sebutkan pada awal artikel, bahwa e-commerce memiliki arti
penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui
sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan
komputer lainnya, dimana perdangan elektronik ini dapat melibatkan
transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen
inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis. Sedangkan
e-business (bisinis elektronik) dapat didefinisikan sebagai penerapan
teknologi informasi dan komunikasi ( TIK ) untuk mendukung seluruh
kegiatan usaha.
Perdagangan
merupakan pertukaran produk dan jasa antara perusahaan, kelompok dan
individu dan dapat dilihat sebagai salah satu kegiatan penting dari
bisnis apapun. Kata “perdagangan” itu sendiri berdiri dengan arti
sekedar tawar menawar antara penjual dan pembeli, lalu apabila keduanya
sepakat, barulah dilakukan transaksi. Perdagangan yang seperti ini
terjadi hanya ‘sesaat’ dan tidak ada relasi yang berarti antara penjual
dan pembeli, dalam hal ini perdagnagan hanyalah sekedar kegiatan menjual
dan membeli.
Ketika
orang mengatakan “saya ada bisnis orang itu”, tentu saja banyak orang
berpikir bahwa banyak kegiatan yang akan dilakukan adalah kegiatan yang
merupakan transaksi dan berisi tentang penjualan dan pembelian barang,
padahal kegiatan yang akan dilakukan belum tentu seperti yang orang
pikirkan. Kegiatan berbisnis bukan hanya kegiatan abstrak seperti
reputasi, kemitraan, dan kepercayaan dalam bertransaksi. E-business
memiliki karakteristik tujuan yang sama dengan bisni secara
konvensional, hanya saja e-business memilki scope yang berbeda. Bisnis
mengandalkan pertemuan antar pebisinis seperti halnya rapat di tempat
khusus atau sekedar untuk berkenalan dengan partner bisnis, sedangkan
e-business mengandalkan media Internet sebagai sarana untuk memperoleh
tujunannya. Meurut Turban, e-business atau bisnis elektronik merujuk
pada definisi e-commerce yang lebih luas, tidak hanya pembelian dan
penjualan barang serta jasa, tetapi juga pelayanan pelanggan, kolaborasi
dengan mitra bisnis, e-learning, dan transaksi elektronik dalam
perusahaan.
E-business
melibatkan proses bisnis yang mencakup beberapa aspek seperti,
pembelian elektronik dan manajemen suplai , pemrosesan order elektronik,
penanganan pelayanan pelanggan, dan bekerja sama dengan mitra bisnis.
E-business dapat dilakukan dengan menggunakan Web , Internet, intranet ,
extranet , atau beberapa kombinasi dari semuanya.
Kedua
istilah ini apabila tidak dipahami terlebih dahulu akan membuat
pembahasan tentang e-commerce itu sendiri menjadi berputar-putar dan
tidak sistematis. Hal ini disebabkan karena kebingungan menentukan
istilah yang paling cocok untuk mewakili konsep perdagangan dengan
sarana elektronik. Perbedaan yang mendasar antara e-commerce dan
e-business adalah bahwa tujuan e-commerce memang benar-benar money
oriented (berorientasi pada perolehan uang), sedangkan e-business
berorientasi pada kepentingan jangka panjang yang sifatnya abstrak
seperti kepercayaan konsumen, pelayanan terhadap konsumen, peraturan
kerja, relasi antar mitra bisnis, dan penanganan masalah sosial lainnya.
Selain perbedaan seperti yang telah disebutkan, e-commerce dan
e-business juga memiliki kesamaan tujuan utama yaitu memajukan
perusahaan yang lebih besar dari sebelumnya. E-commerce dan e-business
merupakan terobosan yang dapat mendongkrak penjualan melalui online
marketing dan sebagai sarana mempromosikan produk melalui media
Internet.
Langganan:
Postingan (Atom)
